• gambar
  • outbound

Selamat Datang di Website SD Muhammadiyah 2 Pontianak. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SD Muhammadiyah 2 Pontianak

NPSN : 30105255

Jl. A. Yani Pontianak Kalimantan Barat


sdmuh2ponsel@yahoo.co.id

TLP : 0561733539


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 86991
Pengunjung : 31492
Hari ini : 51
Hits hari ini : 166
Member Online : 0
IP : 3.237.97.64
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Sang Pohon Apel




Penulis : Suhardi, S.Pd (WKS. Kesiswaan, Al Islam dan Kemuhammadiyahan)

 

Alkisah, dahulu kala, hiduplah sebatang pohon apel besar dan seorang anak lelaki. Setiap hari, anak lelaki tersebut senang bermain-main di bawah pohon apel itu. Ia selalu memanjat pohon apel hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, dan tidur-tiduran di bawah teduhnya daun-daun apel.

 

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel setiap hari. Hanya sesekali anak lelaki tersebut mendatangi pohon apel. Suatu hari, si lelaki mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

 

“Ayo, ke sini bermain-main lagi denganku!” pinta pohon apel.

“Aku bukan lagi anak kecil yang bermain-main dengan pohon,” jawab lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan. Tapi, aku tidak punya uang untuk membelinya,” tutur anak lelaki itu dengan muka lesu.

 

Mendengar keluhan anak lelaki itu, pohon apel pun berkata, “Engkau boleh mengambil buahku secukupnya untuk dijual. Uangnya bisa engkau gunakan untuk membeli mainan.”

Bukan main senangnya hati si anak lelaki mendengar ucapan pohon apel. Ia lalu memetik buah apel untuk dijual. Namun setelah itu, anak lelaki tersebut tidak pernah datang lagi. Pohon apel kembali bersedih.

 

Setelah sekian lama, lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya. “Ayo, bermain-main lagi denganku!” ajak pohon apel.

“Aku tidak punya waktu,” jawab si lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf. Aku pun tidak memiliki rumah. tapi kau bisa menebang semua dahan dan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu, lalu pergi dengan gembira.

 

Pohon apel kembali bersedih karena si lelaki lama tidak mengunjunginya.

Pada suatu musim panas, lelaki itu datang kembali. Ia mengeluh kepada pohon apel,”Aku sedih. Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar ke tempat yang jauh. Maukah engkau memberi aku sebuah kapal untuk berlayar?”

 

“Duh, maaf. Aku tidak punya kapal. Tapi kalau kau mau, kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal. Lalu, pergilah berlayar dan bersenang-senanglah,” kata pohon apel.

Kemudian, lelaki itu memotong batang pohon apel dan membuat kapal yang diidamkannya. Setelah kapal selesai dibuat, ia pun pergi berlayar.

Setelah bertahun-tahun, lelaki itu datang lagi menemui pohon apel. Melihat kedatangan si lelaki, pohon apel berkata, “Kali ini, apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi,”kata pohon apel sambil menitikkan air mata.

 

“Aku tidak menginginkan apa pun darimu, wahai pohon apel. Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu,” jawab si lelaki.

 

“Meski sudah tua, akar-akarku adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang,” kata pohon apel. Lelaki itu pun berbaring di pelukan akar-akar pohon apel. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum seraya meneteskan air mata haru.

 

Dari kisah di tersebut, semua orang punya pohon apel dalam hidupnya. Pengibaratan pohon apel tersebut adalah orang tua kita. Kebanyakan dari kita adalah ketika kita kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika tumbuh besar, kita meninggalkan mereka. Kita hanya datang kepada mereka ketika kita memerlukan sesuatu atau saat kita berada dalam kesulitan yang memerlukan solusi dari mereka. Kadang kita tidak merasa betapa besar pengorbanan mereka untuk kita. Jangankan tenaga, pikiran, dan harta. Nyawa pun akan mereka ikhlaskan untuk kita, anak tercintanya.

 

Bagi yang masih memiliki orang tua, sesibuk dan sesempit apa pun waktu  kita, luangkanlah waktu bersama mereka. Bahagiakan mereka. Jemput keridhaan mereka. Bukankah ridha Allah tergantung kepada ridha kedua orang tua?

Wallahu a’lam bi shawab.

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas